background image
Dengan tema utama penyakit psikosomatik,
CDK
telah berkunjung kepada
Prof. dr.
H. AULIA,
seorang gurubesar
FKUI
dalam ilmu psikosomatik.
Beliau sekarang telah berusia 81 tahun dan sejak beberapa waktu telah me-
ngundurkan diri dari segala kegiatan dalam lapangan kedokteran.
Prof. H. Aulia adalah ahli penyakit psikosomatik pertama di Indonesia dan pendiri
Bagian Psikosomatik
RSTM.
Oleh para dokter dan mahasiswanya beliau juga dikenal dengan diet buah-
buahnya (vruchten-dieet) dan terapinya dengan suntikan Impletol (neural therapy).
Walaupun usianya telah lanjut, akan tetapi beliau masih cukup teliti dalam me-
milih kata-kata yang tepat dalam menyusun kalimat-kalimat.
Yang juga mengesankan ialah keyakinannya dalam agama (agama Islam) yang
tercermin juga dalam pandangannya tentang peranan agama dalam pengobatan
keluhan-keluhan psikosomatik.
Dibawah ini adalah sari dari wawancara dengan beliau yang sebagian besar
dapat dibaca dalam buku yang telah ditulisnya:
"
Agama dan kesehatan badan/jiwa
"
dan diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang, Jakarta.
REDAKSI
Wawancara
dengan
Prof. Dr.
H. Aulia
"A physician who walks into a
sick room is not alone. He can only
minister to the ailing person with
the material tools of medicine
­ his faith in a higher Power does
the rest
"
ELMER HESS M.D.
Sejak lebih kurang 30 tahun terakhir
ini timbul suatu pengertian baru dilapang-
an ilmu kedokteran yaitu yang dinamakan
psikosomatik. Istilah ini bermaksud me-
nyatakan dengan tegas hubungan erat
antara jiwa dan badan yang saling mem-
pengaruhi. Bila badan ditimpa sesuatu
penyakit, jiwa ikut berkesusahan, demi-
kian pula sebaliknya. Sebenarnya peranan
pengaruh jiwa atas badan itu sudah di-
ketahui orang sejak dahulu kala, walaupun
tidak dipraktekkan secara teratur dilapang-
an kedokteran seperti sekarang.
Psikosomatik atau kejiwa-badanan me-
rupakan suatu cara menghadapi seorang
penderita yang lebih luas daripada cara
yang biasa dilakukan dilapangan pemerik-
saan dan pengobatan kedokteran, yakni
cara yang tanpa mengabaikan badan,
memperhatikan jiwa lebih daripada yang
sudah-sudah sehingga pada tiap-tiap orang
sakit dipertimbangkan berapa jauh sebab
penderitaannya terletak dilapangan jiwa
dan berapa banyak terletak dilapangan
badan. Bila sebagian besar daripada sebab
penderitaan itu ditemukan dilapangan ke-
jiwaan, maka mudahlah dipahami bahwa
pengobatan sisakit itu perlu dititik-berat-
kan pada pengobatan kejiwaan tanpa me-
ngabaikan pengobatan biasa atau peng-
obatan kebadanan.
Pengalaman dilapangan kedokteran te-
lah membuktikan bahwa seringkali keluh-
an dan penderitaan disebabkan oleh hal-
hal kejiwaan yang berupa kejengkelan,
kekecewaan, perasaan bersalah, perasaan
berdosa dan lain-lain. Bila dari pemeriksa-
an sudah nyata bahwa hal kejiwaanlah
yang harus dipersalahkan dalam penderita-
an sisakit itu, maka perlu diusahakan
untuk membedakan antara:
1. Hal-hal kejiwaan yang langsung me-
nyebabkan ketegangan jiwa dengan
akibat mencetuskan penderitaan itu
(faktor-jiwa-pencetus = precipitating
factor) dan
2. Hal-hal kejiwaan yang menyebabkan
orang yang bersangkutan lebih ber-
sedia/lebih mudah dipengaruhi dan
lebih lekas menderita oleh karena
faktor pencetus tadi (disebut faktor-
jiwa-penyedia = predisposing factor).
Faktor-jiwa-penyedia itu seringkali me-
rupakan suatu kesusahan kejiwaan atau
suatu emosi yang dialami dimasa kecil.
ADLER,
seorang dokter ahli kejiwaan
yang terkemuka, pernah menyatakan bah-
wa suatu peristiwa yang sangat mengesan-
kan dimasa kanak-kanak akan membentuk
suatu segi tabiat yang selaras dengan peris-
tiwa itu, pada orang tersebut.
Oleh karena faktor-jiwa-penyedia ini
dibentuk dalam waktu yang lama, seorang
penderita penyakit psikosomatik sering
tidak berhasil mengatasi emosi atau faktor
penyedia diatas dengan jalan membahas-
nya dan menginsafinya dengan pikiran,
intelek atau reasoning.
Dalam hal serupa ini (yang banyak kali
kami temukan dalam pengalaman kami),
maka satu-satunya jalan yang dapat di-
harapkan akan membawa hasil yang me-
muaskan ialah jalan
AGAMA.
Bahwa
agama itu penting artinya tidak saja bagi
masyarakat Indonesia tetapi juga bagi
masyarakat Barat, dapat disimpulkan dari
pernyataan Prof. Dr.
C.C.JUNG
sebagai
g
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
5
background image
berikut: "Among all my patients in the
second half of life ­ that is to say over
35 years ­ there has not been one whose
problem in the last resort was not that
of finding a religious outlook on life
"
yang kurang lebih berarti "diantara sekali-
an pasien saya yang berusia lebih dari 35
tahun, tak ada seorangpun yang faktor-
kejiwaan penyakitnya pada akhirnya tidak
berhubungan dengan agama
"
.
Pengalaman kami dibagian Psikosoma-
tik membenarkan sepenuhnya ucapan di-
atas, malahan lebih dari itu, sebab disini
soal keagamaan sudah dapat memainkan
peranan penting pada penderita yang be-
lum berusia 35 tahun.
Lebih jauh pengalaman menunjukkan bah-
wa seorang dokter yang memeluk suatu
agama yang dianutnya dengan penuh ke-
yakinan dan mempunyai pengetahuan ten-
tang ajaran dan hikmah agamanya yang
sedikit lebih banyak daripada pengetahuan
yang dimiliki orang banyak, dapat me-
lakukan pengobatan kejiwaan-keagamaan
itu dengan hasil yang baik, juga bila meng-
hadapi seorang penderita yang berlainan
agama atau seorang pasien yang tidak
beragama sekalipun, asal saja dalam hal-hal
itu didahulukan suatu pembicaraan se-
kedarnya mengenai agama.
Pentingnya peranan agama untuk ilmu
kedokteran ditekankan lebih lanjut oleh
Prof.
J.C.MACKENZIE:
'
The successes
of the psychotherapist are achieved not
because he has a thorough knowledge of
general medicine, nor even because of
his knowledge of neurology but in virtue
of his pastoral ability" yang kurang lebih
berbunyi "Hasil-hasil baik dari ahli psi-
koterapi tidak diperolehnya karena pe-
ngetahuannya yang sempurna tentang ilmu
kedokteran umumnya, malahan juga tidak
karena ia ahli dalam ilmu penyakit saraf,
melainkan karena kecakapannya dilapang-
an agama
"
.
DOA DAN PENGOBATAN
Salah satu tindak keagamaan yang pen-
ting ialah berdoa, yakni memanjatkan
permohonan kepada Allah supaya mem-
peroleh sesuatu kehendak yang diridhoi
Tuhan. Manfaat doa telah berulang-ulang
dinyatakan orang dari jaman kejaman.
Peranannya dilapangan ilmu kedokteran
antara lain ditegaskan oleh Dr.
A.CARREL,
pemenang hadiah Nobel tahun 1912 un-
tuk ilmu kedokteran karena karya-pe-
nemuannya dilapangan ilmu bedah. Dalam
bukunya
La PRIERE (DOA)
dikemuka-
kannya pernyataan: ' Bila doa itu dibiasa-
kan dan betul-betul bersungguh-sungguh,
maka pengaruhnya menjadi sangat nyata
,..............itu merupakan semacam perobah-
an kejiwaan dan kebadanan................Ke-
tenteraman yang ditimbulkan oleh doa
itu merupakan pertolongan yang besar
pada pengobatan".
Selanjutnya Dr.
CARREL
mencerita-
kan hasil penyelidikannya di Lourdes, di
Perancis, dimana banyak orang Kristen
datang untuk berdoa kepada Tuhan supaya
mereka disembuhkan dengan air dari suatu
mata air disana. Diceritakannya tentang
peristiwa-peristiwa
penyembuhan yang
ajaib disana dan dinyatakannya bahwa
''hal yang ajaib itu tersifat karena per-
cepatan luar biasa daripada peristiwa-
peristiwa normal dari suatu penyembuh-
penyembuhan".
Lebih jauh diterangkan olehnya bahwa
penyembuhan di Lourdes itu dulu, 40
sampai 50 tahun yang lalu, lebih banyak
kali dialami daripada sekarang. Sebabnya
ialah karena dulu penderita-penderita yang
datang ke Lourdes itu biasanya penuh
kekhusyu'an agama, tetapi sekarang ku-
rang demikian halnya.
Memang doa itu sering kali sukar untuk
dikabulkan. Dalam agama Islam, dalam
Quran Surat Al Baqarah,ayat 45, tertulis :
' Mintalah pertolongan dengan sabar dan
sembahyang. Sesungguhnya hal ini berat
adanya kecuali bagi orang yang khusyu "'
lebih jauh dalam ayat 186, tertulis: " Dan
bila para hamba-Ku bertanya kepada eng-
kau ­ hai Muhammad ­ tentang Aku,
maka sesungguhnyaAku dekat. Aku mem-
perkenankan permintaan orang yang me-
minta kepada-Ku'maka hendaklah mereka
menjawab seruan-Ku, mudah-mudahan
mereka berjalan dijalan yang lurus"
yanglurus".
Tadi telah ditekankan pentingnya fak-
tor kejiwaan dalam banyak penyakit.
Harus diingat juga bahwa kadang-kadang
sesuatu hal yang belum dapat atau masih
sukar diterangkan dengan pengetahuan
kedokteran sekarang ini mungkin bukan
terutama karena faktor kejiwaan. Pernah
ada seorang bekas menteri yang sakit perut
sehingga
perlu dirawat dirumah sakit.
Setelah dirawat 2 minggu dirumah sakit
dan dilakukan berbagai macam pemeriksa-
an dan pengobatan, tanpa hasil. Maka
penderita tersebut dikirimkan kebagian
Psikosomatik. Pada pemeriksaan kebadan-
an saya temukan suatu bekas luka operasi
appendektomi. Saya curigai inilah pe-
nyebab sakit perutnya, maka saya kata-
kan:
"
Pak menteri, kalau kita untung
pak Menteri keluar dari kamar ini sem-
buh". Kemudian disekitar luka bekas
operasi tsb. disuntikkan Impletol (Procain
& Caffein), dan memang sakit perutnya
hilang. Minggu depannya pasien itu kem-
bali untuk mengucapkan terima kasih.
Ini termasuk yang dinamakan neural-
therapy (mekanismenya diuraikan dalam
salah satu artikel dalam nomor ini, pada
halaman 19 ­ Red.) Jelas bahwa penya-
kit pasien diatas itu terutama bukan kare-
na faktor kejiwaan.
MASA DEPAN PSIKOSOMATIK
Psikosomatik merupakan bagian yang
penting dalam lapangan ilmu kedokteran,
dan bila tingkat pentingnya ditentukan
oleh jumlah penderitanya, maka bidang
psikosomatik harus dipandang sangat pen-
ting, karena jumlah penderita psikosomatik
yang sudah dapat diketahui, seperti di-
negara yang melakukan statistik dilapang-
an itu, misalnya di Amerika Serikat,
pada akhir tahun 1957 menurut
J.C.
COLEMAN,
jumlahnya telah mencapai
20 juta.
Akan tetapi perjuangan ahli-ahli psikoso-
matik agar bagian ini secara resmi dimasuk-
kan dalam bidang kedokteran bukanlah
perjuangan yang ringan.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya
pernah menawarkan diri untuk mendiri-
kan bagian psikosomatik di
SAUDI ARA-
BIA
dan atas tawaran ini datanglah balas-
an yang isinya kurang lebih " Kami ber-
terima kasih atas kesediaan bapak untuk
menjadi pegawai kami. Tetapi kami me-
nyesal tak dapat menerima bapak karena
untuk orang seperti bapak tak ada pe-
kerjaan disini". Demikian juga nasibnya
dengan usul saya untuk mendirikan bagi-
an psikosomatik pada waktu pemerintah
Malaysia hendak mendirikan suatu rumah
sakit baru. Mereka belum tahu akan arti
psikosomatik itu (pada waktu itu, Red.)!
Sementara itu jumlah pasien di Bagian
Psikosomatik RSTM terus meningkat.
Memang jalannya panjang dan sukar,
tetapi lambat laun dunia kedokteran di-
mana-mana mengakui pentingnya psiko-
somatik, lebih-lebih dimasa depan dimana
ketegangan mencengkam hidup masyara-
kat.
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
an